Home Fokus Bali 100 Tahun Rarud Batur Bincangkan Tiga Buku Kenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

100 Tahun Rarud Batur Bincangkan Tiga Buku Kenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

Rangkaian 100 Tahun Rarud Batur menghadirkan kegiatan peluncuran dan bedah buku di Madya Mandala Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Selasa (4/8/2026).

BANGLI, fokusbali.com – Batur Village Festival 2026 yang merupakan rangkaian 100 Tahun Rarud Batur menghadirkan kegiatan peluncuran dan bedah buku di Madya Mandala Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Selasa (4/8/2026).

Buku yang diluncurkan berjudul “Sandyakala Huluning Toya” karya akademisi Universitas Hindu Indonesia (UNHI), “Under the Spell of the Batur Volcano” karya Brigitta Hauser-Schäublin (2025), dan “Seabad Relokasi Batur” karya 32 penulis yang diinisiasi Lingkar Studi Batur (2025). 

Ketiga buku dibedah oleh Dr. W.A. Sindhu Gitananda (akademisi UNHI Denpasar), Dr. I Ngurah Suryawan (akademisi Universitas Papua), dan Ni Kadek Desi Nurani (Mulawali Institute), serta dimoderatori oleh I Gede Diyana Putra (akademisi Institut Hindu Negeri Mpu Kuturan, Singaraja).

Rektor UNHI, Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, S.E., M.Si., dalam peluncuran buku “Sandyakala Huluning Toya” mengatakan bahwa Batur bukan sekadar ruang fisik yang di dalamnya terdapat gunung dan danau. Menurutnya, Batur adalah laboratorium peradaban hulu Bali dan ruang studi yang tiada habisnya untuk dipelajari. 

BACA JUGA:   Lebih dari 30 Tahun Direndam Banjir, Danrindam Nekat Bangun Tembok Pembatas Secara Swadaya

“Di dalamnya terdapat pelajaran berharga tentang resiliensi sosio-kultural-religius. Kemampuan adaptasi di tempat yang baru (Kalanganyar) membuktikan bahwa identitas kultural, spiritualitas dan keguyuban adalah fondasi kuat dalam menghadapi krisis. Kami juga memandang penulisan buku ini sebagai wujud tanggung jawab moral dan intelektual,” katanya.

Secara kesejarahan, katanya, UNHI lahir melalui inspirasi di titik pertemuan air (Campuhan Ubud), ketika para maha kulina Bali, narawidya, para cendekiawan mecampuh dalam satu agenda penting: dharma asrama. 

Di titik pertemuan air yang bersumber dari Batur inilah inspirasi itu lahir, sehingga melahirkan kesepakatan mendirikan asrama pengadyayan dengan nama Maha Widya Bawana sebagai cikal bakal dari UNHI. 

“Bisa dikatakan, UNHI adalah pasihan lain dari Batur. Jika dalam sistem pasihan subak-subak yang menerima aliran kasih dari Dewi Danu menghaturkan sarin tahun berupa pangan dan hasil sawah, sebagai lembaga yang juga lahir dari inspirasi di titik pertemuan air, UNHI berupaya menghaturkan candi pustaka sebagai wujud jnana yadnya pada Dewi Danu,” terangnya.

BACA JUGA:   Rip Curl Cup Resmi Umumkan Nama 24 Peserta, Potensi Kompetisi Berlangsung Hari Jumat

“Warisan sastra kita menyatakan adhyapanam brahmā yajnyaḥ. Jika bisa diibaratkan, UNHI adalah ineng sastra, atau tempat menyimpan sari-sari pengetahuan yang bisa dipanen oleh orang yang senantiasa suntuk bertani di ladang sastra. Oleh sebab itulah yang UNHI bisa haturkan bukanlah berbagai bentuk pala bungkah, pala gantung, atau pala wija, tetapi berupa bija-bija aksara yang dimanifestasikan dalam buku ini.”

Jero Penyarikan Duuran Batur, mewakili Palinggih Dane Jero Gede Batur, mengucapkan terima kasih atas kehadiran buku tersebut. Ia merasa terharu karena kehadiran buku itu, turut mendorong kebertahanan Batur menghadapi dinamika zaman. 

“Lewat buku yang merupakan muara dari kerja-kerja akademik ini, Batur sesungguhnya telah didorong maju dan bertahan dari dinamika kehidupan. Kini Ida Bhatari Batur bukan saja sebagai entitas yang memegang sumber air, tetapi sebagai poros memutar jantra sastra, yakni pengetahuan. Saya jadi ingat ungkapan Ida Pedanda Made Sidemen, ‘tong sing ngelah karang sawah, karang awake tandurin’. Ini kini telah menubuh di Batur, yang membuat saya optimis Batur bisa bertahan dari potensi rarud kedua,” jelasnya. (kbg)

Komentar