Home Fokus Bali Bahasa Dialek Bangli Jadi Topik Hangat di DIPA Bangli

Bahasa Dialek Bangli Jadi Topik Hangat di DIPA Bangli

Narasumber dan penyelenggara berfoto bersama usai Diskusi Bersama Peradah (DIPA) Bangli di Museum Gunung Api Batur, Sabtu (15/2).
Narasumber dan penyelenggara berfoto bersama usai Diskusi Bersama Peradah (DIPA) Bangli di Museum Gunung Api Batur, Sabtu (15/2).

BANGLI, fokusbali.com – Menyemarakkan Bulan Bahasa Bali 2020, DPK Peradah Indonesia Bangli bekerjasama dengan Komunitas Bangli Sastra Komala menggelar Diskusi Bersama Peradah (DIPA) Bangli #5 dan Workshop Penulisan Puisi Bali Modern. Kegiatan yang dibuka Kepala Dinas Pendidikan-Pemuda-Olahraga (Dikpora) Bangli I Nengah Sukarta, digelar di Museum Gunung Api Batur, Batur Tengah, Kintamani, Bangli, pada Sabtu (15/2).

Diskusi memperbincangkan keberadaan Bahasa Bali dialek Aga menghadirkan dua narasumber sebagai pemantik diakusi, yakni Direktur Badan Pengelola Pariwisata Batur Unesco Global Geopark, I Gede Wiwin Suyasa, dan dosen Sastra Bali Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum.

“Bangli dengan geografisnya sedemikian rupa memiliki dua sub dialek besar, yakni bahasa Bali Aga dan bahasa Bali Dataran. Bahasa Bali dialek Aga berkembang di desa-desa di Pegunungan Kintamani, seperti di Satra, Dausa, Bantang, Sukawana, Batur, Songan, Kedisan, Bayung Gede, dan daerah lainnya, sedangkan bahasa Bali dialek Dataran tersebar di kawasan Bangli dengan pusatnya di Kota Bangli,” jelas Putu Eka Guna Yasa, akademisi muda asal Selat Tengah, Susut, Bangli.

BACA JUGA:   Peradah Indonesia Proses Hukum Oknum Akademisi atas Dugaan Pencemaran Nama Baik

Bahasa Bali Aga dinyatakan sebagai kelanjutan bahasa Bali Kuno, sedangkan bahasa Bali Dataran adalah dialek yang lahir dan dipengaruhi oleh masyarakat Majapahit yang datang besar-besaran ke Bali pasca ekspansi Majapahir 1343. 

Bahasa Bali Aga memiliki kesejarahan lebih tua dibandingkan bahasa Bali Dataran. Pewarisannya dari bahasa Bali Kuno terlihat seperti penggunaan ‘aku’  yang ditemukan di Satra maupun variasinya berupa ‘ake’ (Songan) dan ‘oke’ (Batur) untuk merujuk orang pertama berasal dari kata ‘aku’ dalam bahasa Bali Kuno yang telah tersurat dalam prasasti-prasasti Bali Kuno. 

Pengucapan bunyi ‘a’ pada bunyi akhir kata-kata berfonem ‘a’ juga menjadi karakter dari bahasa Bali Aga. Pengucapan ini berbeda dengan dialek Bali Dataran yang mengucapkan kata berakhiran ‘a’ cenderung dengan ‘ə’.

“Di tengah semarak keberadaan bahasa Bali pasca Pergub 80/2018, kita kemudian bertanya, adakah bahasa Bali Aga diberikan panggung, bukan dipunggungi? Ini penting dilestarikan, sebab bahasa adalah cerminan karakter. Bahasa adalah suluh hidup, dan suluh idep (pikiran),” terangnya.

BACA JUGA:   Menparekraf Tegaskan Tidak akan Tergesa-gesa Membuka Kembali Pariwisata Bali

Sementara itu, dari sudut pandang pariwisata, Wiwin Suyasa, menilai keanekaragaman dialek itu sangat potensial dikembangkan mendukung status Batur sebagai bagian dari Geopark dunia.

“Keragaman bahasa adalah modal besar untuk pariwisata. Makin banyak modal, makin besar peluang dikembangkan,” katanya. 

Di tengah potensi besar itu, pihaknya mengakui memang belum ada pemanfaatan dan keterhubungan. “Sebagai contoh cerita Kang Cing We, itu kan cerita besar, yang sejak abad ke-8 sudah eksis, namun hingga saat ini belum terhubung, belum terkumpul,” ucapnya.

Ketua DPK Peradah Indonesia Bangli, I Ketut Eriadi Ariana (Jero Penyarikan Duuran) mengatakan pelestarian bahasa Bali dialek Aga penting dilakukan. Dikatakan, saat ini ada fenomena keengganan menggunakan bahasa Bali dialek Bali Aga. Di tataran pergaulan dialek bahasa ini dipandang kasar, padahal itu adalah kearifan lokal yang memiliki nilai luhur bagi masyarakat pewarisnya.

“Jika ini hilang, akan menghilangkan kebudayaan masyarakat itu pula. Itu sebabnya kami berupaya mengangkat wacana ini ke publik, agar timbul kesadaran bahwa dialek bahasa ini penting sebagai identitas sekaligus potensi yang bisa dikembangkan,” terangnya.

BACA JUGA:   Industri Pariwisata Bali Nyatakan Siap Jalani Tatanan New Normal Pariwisata

Ketua Panitia, I Nyoman Diana, menyatakan hal senada. Menurutnya bahasa Bali dialek Bangli adalah identitas orang Bangli.

“Desa-desa di Bangli memiliki banyak perbedaan bahasa, mulai dari kosakatanya, hingga dialeknya. Orang luar Bangli suka menirunya, sehingga kami berharap hal ini jangan dilupakan, kita jaga sebagai identitas desa atau kekhasan desa,” ucap pemuda asal Desa Songan ini.

Komentar