TABANAN, fokusbali.com – Semarak memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia turut digelar Be Tu Na Bali melalui lomba memasak berbahan dasar ikan tuna yang berlangsung di Be Tu Na Tabanan pada Senin (17/8/2026).
Kegiatan ini menjadi ajang kreativitas masyarakat sekaligus upaya memperkenalkan manfaat ikan tuna sebagai sumber pangan bergizi.
General Manager Be Tu Na Bali, Yumi Fadila, mengatakan lomba memasak tersebut terbuka bagi masyarakat umum, termasuk ibu rumah tangga maupun chef profesional.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak tahap audisi yang dilakukan secara daring melalui pengiriman video.
“Awalnya kami melakukan audisi melalui video. Pesertanya lumayan banyak, antusiasmenya sampai sekitar 60 orang. Karena tempat kami tidak memungkinkan untuk membawa seluruh peserta ke babak final, akhirnya kami melakukan penyortiran dan memilih enam peserta,” ujar Yumi Fadila.
Proses audisi berlangsung mulai 27 Juli hingga 1 Agustus 2026 dimana peserta diminta untuk memasak salah satu dari menu nasi goreng tuna, sop buntut tuna, serta menu bakaran yang dapat menggunakan bagian ikan seperti buntut, rahang, maupun iga.
Pada tahap tersebut, peserta mengirimkan video hasil masakan untuk dinilai berdasarkan tampilan, plating, serta teknik memasak. Peserta kemudian diseleksi hingga tersisa enam finalis.
Enam finalis lalu diadu memasak langsung di Be Tu Na Tabanan dengan tantangan yang sama, yakni mengolah tiga kategori masakan berbahan dasar tuna sekaligus selama 2 jam.
Berbeda dengan penilaian pada tahap audisi, penilaian final dilakukan secara langsung sehingga aspek rasa menjadi salah satu faktor utama.
“Kalau untuk enam orang ini, penilaiannya ditambah rasa karena saat video kami tidak bisa mencicipi. Sekarang kami bisa menilai bagaimana rasanya. Jadi bukan hanya dari plating, tetapi juga teknik memasak, rasa, kebersihan, dan kecepatan dalam menyajikan makanan,” jelas Yumi.
Kompetisi tersebut menyediakan hadiah jutaan Rupiah dimana juara pertama mendapatkan hadiah Rp10 juta, juara kedua Rp5 juta, dan juara ketiga Rp3 juta.
Selain hadiah uang tunai, kompetisi ini juga memiliki penghargaan yang lebih besar bagi pemenang, dimana resep sang juara nantinya akan digunakan menjadi menu tambahan yang dapat dihadirkan di jaringan restoran Be Tu Na di Bali.
“Dari awal kami sudah memberikan informasi kepada peserta bahwa apabila menjadi pemenang, mereka siap memberikan resep kepada kami. Resep tersebut nantinya akan kami gunakan sebagai menu tambahan di Be Tu Na di seluruh Bali,” kata Yumi.
Menurut Yumi, lomba memasak ini tidak hanya ditujukan sebagai kegiatan perayaan HUT RI, tapi juga guna meningkatkan minat masyarakat terhadap konsumsi ikan, khususnya tuna.
“Kami ingin memperkenalkan produk ikan, terutama ikan tuna. Semboyan yang selalu kami miliki adalah ikan sehat untuk anak bangsa. Dengan adanya perlombaan ini, kami berharap masyarakat semakin mencintai tuna dan semakin mengetahui manfaat tuna,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tuna dipilih sebagai bahan utama karena memiliki kandungan protein yang tinggi dan dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pilihan kuliner di masyarakat.
Melihat tingginya antusiasme peserta dan masyarakat, Be Tu Na Bali membuka peluang untuk kembali menggelar lomba memasak serupa pada tahun depan dengan lokasi lomba kemungkinan akan dipindahkan ke cabang Be Tu Na lainnya.
Melalui lomba memasak tuna tersebut, Be Tu Na Bali tidak hanya ingin menghadirkan kegiatan kreatif dalam rangka HUT ke-81 RI, tetapi juga memperkuat kampanye konsumsi ikan sebagai bagian dari pola makan masyarakat.
Dengan menggabungkan kompetisi memasak, edukasi pangan, penyediaan bahan baku, serta pengembangan menu berbasis tuna, kegiatan ini diharapkan dapat semakin mendekatkan produk perikanan kepada masyarakat sekaligus membuka ruang bagi kreativitas para pelaku kuliner di Bali.
Terkait keberadaan restoran Be Tu Na sendiri, Yumi mengatakan antusiasme masyarakat juga disebut berada di luar perkiraan pihak manajemen.
Saat pertama kali dibuka, Be Tu Na Tabanan hanya memiliki tujuh orang staf. Namun, setelah grand opening, jumlah pengunjung meningkat dan kebutuhan tenaga kerja pun bertambah.
“Awalnya kami benar-benar fifty-fifty, percaya tidak percaya akan seramai ini. Kami mulai hanya dengan tujuh staf. Setelah grand opening ternyata pengunjung membludak. Sekarang jumlah staf kami sudah mencapai 35 orang,” ujar Yumi.
Saat ini Be Tu Na Bali memiliki tiga cabang, yakni Be Tu Na Tabanan, Be Tu Na Sirip Kuning, dan Be Tu Na Sirip Biru yang berada di kawasan Pelabuhan Benoa.
Selain restoran, Be Tu Na Tabanan juga dilengkapi dengan fish market atau pasar ikan yang menyediakan berbagai jenis hasil laut. Masyarakat dapat membeli ikan seperti baramundi dan kakap, serta produk seafood lainnya seperti cumi dan udang.
Menariknya, ikan yang dibeli di fish market tersebut dapat langsung dimasak atau dibakar di lokasi. Konsep tersebut memberikan pilihan bagi konsumen untuk memilih sendiri bahan makanan yang diinginkan sebelum menikmatinya dalam bentuk hidangan siap santap.
Salah satu daya tarik Be Tu Na Tabanan adalah harga yang relatif lebih terjangkau dibandingkan sejumlah cabang lainnya. Yumi menjelaskan, perbedaan harga tersebut berkaitan dengan program subsidi ikan yang masih diterapkan di Be Tu Na Tabanan.





