penayangan perdana film aksi fiksi ilmiah ‘Anomaly’, bertempat di Hotel W Seminyak, Jumat (25/2/2022)
Penayangan perdana film ‘Anomaly’, di Hotel W Seminyak, Jumat (25/2/2022). (ist)

Membawa Hollywood ke Bali Lewat Film Aksi Fiksi Ilmiah ‘Anomaly’

KUTA, fokusbali.com – Perusahaan produksi film yang berlokasi di Los Angeles dan Bali, Good Form Bali, merilis penayangan perdana film aksi fiksi ilmiah ‘Anomaly’, bertempat di Hotel W Seminyak, Jumat (25/2/2022).

Semua pengambilan gambar film ini dilakukan di Bali dengan penggabungan kru dari luar dan dalam negeri.

Sang sutradara, Brian L. Tan, adala sutradara dengan pengalaman mengerjakan Visual Effects untuk film-film blockbuster Hollywood seperti ‘Tron: Legacy’, ‘X-Men’, dan ‘Girl with the Dragon Tattoo’.

Film Anomaly ini menghadirkan sederet aktor berpengalaman seperti Salvita De Corte (‘Halfworlds, ‘Ratu Ilmu Hitam’), Mike Lewis (‘Foxtrot Six’, ‘Dead Mine’), Joseph J. U. Taylor (‘Monkey Man’, ‘Strike Back’), Quisha Saunders (‘American Gangster’, ‘When in Rome’), dan John Walker Six.

penayangan perdana film aksi fiksi ilmiah ‘Anomaly’, bertempat di Hotel W Seminyak, Jumat (25/2/2022)
Sutradara Brian L. Tan (tengah) bersama aktor film Anomaly Joseph J.U. Taylor (kiri) dan Quisha Saunders. (fb/ed)

Brian L. Tan menjelaskan, ‘Anomaly’ bercerita tentang Alpha yang memimpin sebuah tim yang terdiri dari lima tentara elit yang diturunkan ke lokasi reruntuhan kuno di tengah hutan.

Misi mereka adalah untuk mengamankan sebuah misteri anomali yang menunjukkan aktivitas paranormal aneh. Apa yang biasanya adalah misi rutin mereka, menjadi sebuah misi yang tak terduga.

“Saya percaya bahwa musuh terburuk kita sendiri sering berakhir dengan diri kita sendiri. Kita semua pernah menjadi korban sabotase diri, pemikiran yang berlebihan, dan keraguan diri yang disebabkan oleh pikiran kita sendiri. Jadi sebagai sutradara aksi, saya pikir saya akan mencoba membuat film yang mewakili pandangan dunia saya. Saya mengobrol dengan Zaike, penulis kami tentang tema ini, dan dari situlah Anomali lahir!” ujar Brian L. Tan.

Untuk pendekatan genrenya di mana ia mencampurkan antara fiksi ilmiah dan aksi, ia memberikan penjelasannya.

BACA JUGA:   Berikan Pengalaman Menginap Baru yang Menginspirasi, PHMHOTELS Luncurkan Paket Co-Living & Co-Working

“Hal-hal terbaik dalam hidup seringkali merupakan ‘campuran’ dari dua hal yang biasanya tidak berjalan bersama. Saya suka sci-fi dan aksi, dan saya berpikir: Mengapa tidak saya coba menggabungkan keduanya untuk memberikan kita yang terbaik dari kedua dunia yang berbeda dengan sentuhan tropis? Saya selalu terinspirasi oleh film-film sci-fi ‘membumi’ yang memiliki kaitan futuristik, tetapi masih relevan dan dapat diterapkan dalam kehidupan kita saat ini,” paparnya.

Brian yang menganggap dirinya sebagai ‘Balifornian’ karena tinggal di California dan Bali menceritakan pesona Bali baginya.

“Bali adalah kanvas yang sangat unik untuk ‘Anomaly’. Hollywood hanya mengetahui Bali sebagai tempat pesta, wisata atau tempat spiritual. Saya ingin menjelajahi sisi pulau Dewata yang lebih gelap dan lebih menyeramkan, yang belum pernah digarap oleh siapa pun sebelumnya dalam film dan pengambilan gambar di taman hiburan yang dibiarkan terbengkalai di Sanur memberi kami latar belakang unik yang tidak diberikan oleh tempat lain di dunia,” jelasnya.

Proses syutingnya yang menantang juga sangat menyenangkan bagi Brian. Menurutnya, belum pernah ada yang mencoba film aksi sebesar ini di Bali sebelumnya.

“Kami harus menggunakan kembali banyak senjata Airsoft mainan dari Jakarta, membangun seluruh portal yang tampak seperti dunia lain di tengah hutan, menemukan kamera Red Gemini kedua yang cocok dengan milik kami, bekerja selama 14 jam penuh di akhir pekan di tengah hutan, dan menyulap helikopter yang berwarna oranye menjadi hitam (serius!). Film ini sangat sulit untuk dilakukan, tetapi saya dengan senang hati akan melakukannya lagi mengingat bagaimana hasilnya,” ceritanya.

Sementara, Salvita De Corte, yang berdarah setengah Bali, menyetujui kata-kata Brian.

“Saya melakukan banyak hal yang biasanya tidak saya lakukan, naik helikopter, paintball, saya belajar banyak hal tentang militer. Selain itu, sangat keren bekerja dengan kru dan aktor yang berbasis di Bali. Berkolaborasi dengan orang-orang dari luar dan dalam negeri selalu menyenangkan. Semua orang benar-benar ramah dan bersahabat,” ungkapnya.

BACA JUGA:   Lewat Lokasabha 2021, Peradah Bangli Gelar Evaluasi Kinerja dan Tunjuk Ketua Anyar

Begitu pun yang dirasakan oleh Mike Lewis, yang mengungkapkan kesenangan bekerja sama dengan orang-orang dari latar belakang dan pengalaman yang berbeda sebagai aktor.

“Setiap orang membawa sesuatu yang unik. Mulai dari pengalaman militer AS John atau latar belakang Hollywood Quisha dengan aktor seperti Denzel Washington. Joe juga merupakan seorang pelatih akting, jadi dia adalah seseorang yang selalu bisa Anda andalkan untuk meminta nasihat,” jelas Mike.

Sinematografer dan Produser Austin Ahlborg yang terkenal dengan karyanya di bidang komersial, naratif, dan dokumenter di seluruh dunia mengatakan, bekerja di pulau Dewata dengan budaya baru itu sangat unik dan menginspirasi saya dalam banyak hal.

“Kami syuting di beberapa lokasi di hutan liar dengan kru campuran ekspatriat dan Bali yang membuat film ini sangat beragam dan menarik. Kami selalu belajar dan mengalami hal-hal baru yang membuat tim kami sangat segar dan terinspirasi,” ungkap Austin.

Produser Eksekutif Patrick Tashadian yang telah bekerja bersama dengan Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto mengatakan bahwa Indonesia punya potensi besar.

“Indonesia selama beberapa waktu ini telah memiliki banyak produksi film internasional dan telah memberikan pengalaman yang tak terhapuskan di mana kita dapat belajar dan tumbuh dari dalam industri. Saya merasa sekarang Indonesia terbukti sangat kompeten dan mahir secara teknis dalam menyediakan produksi yang mendukung dalam berbagai format mulai dari naratif, faktual dan variasi,” katanya.

Produser Andrea Pasquettin memberikan visinya, yakni untuk membuat sebanyak mungkin orang-orang melihat film ini.

Dunia perlu melihat betapa menakjubkannya Indonesia dan Bali sebagai tempat yang kreatif. Film yang direkam di sini dapat dibuat dengan budaya, suasana, pemandangan dan komunitas yang luar biasa.

BACA JUGA:   Pujawali di Pura Pasar Agung Batur Digelar Tiga Hari

“Kami berharap film pendek ini dapat diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar yang memanfaatkan bakat-bakat lokal Indonesia yang tersedia dengan arahan sutradara Brian dan keterampilan fotografi Austin. Sebagai bukti konsep yang kami yakin bahwa kami mampu mengeksekusi film aksi skala internasional yang juga dapat beresonansi di market lokal,” pungkas Patrick.

Komentar