DENPASAR, fokusbali.com – Setelah gelar berbagai pelatihan, program mahasiswa mahasiswi LSPR, Makejang Melajah Mekarya cetak konten kreator muda yang peduli terhadap budaya lokal.
Ajang ini merupakan kesempatan bagi anak muda amatir untuk belajar dan profesional muda untuk unjuk kebolehannya dan berdedikasi kembali kepada desa.
Sebagai bentuk apresiasi, berbagai hadiah dengan total nilai puluhan juta rupiah telah disiapkan untuk 4 kelompok terbaik.
Ciptakan awal dari generasi yang peduli akan tradisi, LSPR membimbing langkah pertama dengan melakukan berbagai pelatihan mengenai pembentukan branding, perbedaan managing media sosial produk dengan komunitas, sampai proses pembuatan konten dari pre-production hingga post-production oleh guest speakers yang telah hadir.
Pelatihan tersebut berlangsung di kampus LSPR Bali yang juga berada dalam kawasan Desa Sumerta Kelod dan berlangsung tanpa dipungut biaya.
“Program Makejang Melajah Mekarya tidak hanya dirancang untuk sekedar digelar dalam kemasan event seperti hari ini, namun yang terpenting dari program ini adalah pada kontribusi nyata yang masiswa/i kami kemas dalam bentuk New Look Social Media Desa Sumerta Kelod yang juga akan diluncurkan pada tahun ini dengan tujuan menjadi program yang sustainable,” ujar A.A Istri Putri Dwijayanti selaku dosen pembimbing mata kuliah Pengabdian Komunitas.
Dalam proses pembuatan konten, topik yang yang siapkan adalah sosial, budaya, lingkungan, dan iklan layanan masyarakat. Topik-topik tersebut didasari oleh hasil dari diskusi yang telah dilakukan oleh Perbekel Sumerta Kelod mengingat beberapa isu yang muncul dalam periode lalu.
Hasil dari konten yang telah dikumpulkan nantinya akan menjadi bahan unggahan media sosial Instagram Desa Sumerta Kelod sehingga menjadikan ini program yang berkelanjutan dengan harapan menjadi jembatan untuk menyelesaikan isu yang muncul dan mengembangkan pengetahuan masyarakat Bali mengenai Desa Sumerta Kelod.
Interaktif, akun Desa akan hadir dengan tampilan yang baru dan pastinya lebih menarik dan informatif.
“Ini merupakan pengabdian yang luar biasa, kecanggihan di jaman globalisasi. Saya ingin melihat remaja ini tumbuh dengan lebih berinovasi, berkreasi sesuai kemampuan mereka. Di jaman globalisasi ini perlu dimanfaatkan. Saya sangat terbuka dan menerima kemajuan ini dimulai dari yang terdekat yaitu perangkat desa terlebih dahulu,” kata Perbekel Desa Sumerta Kelod dalam sambutanya setelah serah terima plakat dan peluncuran brand guideline.
Selain itu, hasil karya lomba ini tak hanya terbatas konten statis namun juga video sehingga peserta memiliki kesempatan lebih jauh untuk explore. Konten yang dihasilkan berupa tiga jenis posting mulai dari Instagram carousel post, Instagram Reels, dan iklan layanan masyarakat.
Contoh kreativitas para konten kreator terlihat pada hasil konten dari Banjar Semung Sari sebagai pemenang.
Dalam karyanya, Desa Sumerta Kelod dipromosikan sebagai desa yang paling strategis karena. Kompetisi ini pun berjalan dengan tagline Makejang Melajah Mekarya yaitu Inovasi, Kolaborasi, dan pemberdayaan.
Pesan ini disampaikan melalui adanya penari Bali yang berkeliling banjar untuk menunjukkan tempat tempat menarik yang ada di Desa Sumerta Kelod.
Seluruh hasil konten yang telah dibuat oleh peserta baik yang menang maupun tidak, akan diunggah di akun Instagram Desa Sumerta Kelod dengan tatanan yang menarik.
Konten tersebut akan menjadi bahan unggahan selama beberapa bulan kedepan dan akan diselingi dengan live reporting mengenai acara desa yang berjalan sesuai dengan timeline nya.
Pada tanggal 20 Juli lalu, new look dari akun Desa dan brand guideline untuk media sosial Desa Sumerta Kelod persembahan dari mahasiswa/i LSPR telah diluncurkan kepada kepala desa, badan desa, kepala dusun, karang taruna dan tamu media yang menghadiri malam penghargaan
I Wayan Oka Priartha Karang, SE selaku Sekretaris Desa dalam kedatangannya pada hari pembukaan pun menyatakan bahwa program Makejang Melajah Mekarya tidak akan selesai sampai disini saja namun akan berkembang menjadi program desa yang merangkul masyarakat terlebih anak muda sehingga menjadi program yang berkelanjutan. (*)









