Home Seni Budaya 24 Seniman, 84 Karya, Satu Warna: Pameran Seni Blue Peaceful Frequency Dibuka...

24 Seniman, 84 Karya, Satu Warna: Pameran Seni Blue Peaceful Frequency Dibuka di Blue Karma Creative Hub Seminyak

24 Seniman, 84 Karya, Satu Warna: Pameran Seni Blue Peaceful Frequency Dibuka di Blue Karma Creative Hub Seminyak

MANGUPURA, fokusbali.com – Sebanyak 24 seniman dan 84 karya hadir bersama dalam Blue Peaceful Frequency, sebuah pameran seni kolektif yang dibuka pada Sabtu (5/9/2026) di Blue Karma Creative Hub, Seminyak. 

Berlangsung hingga 4 Oktober 2026, pameran ini menghadirkan karya lukis, patung, dan karya multidisiplin yang terhubung oleh satu titik berangkat yang sama: warna biru.

Alih-alih menampilkan biru sebagai tema atau simbol dengan makna yang tetap, Blue Peaceful Frequency memperlakukannya sebagai bahasa visual bersama.

Setiap seniman yang berpartisipasi membawa bahasa tersebut ke arah yang berbeda, dibentuk oleh pengalaman pribadi, proses kreatif, dan cara mereka memandang dunia.

Di balik karya-karya tersebut terdapat kisah-kisah yang melampaui pameran itu sendiri. 

I Komang Adiartha membawa prinsip keberlanjutan ke dalam praktik berkaryanya dengan mengolah ampas kopi bekas menjadi karya seni. 

Sementara itu, Alexa Genoyer berpartisipasi tidak hanya sebagai seniman dan pendiri Blue Karma Secrets, tetapi juga sebagai pendiri Blue Karma Children Foundation.

Hasil penjualan lukisan karya Carmen Clews juga akan didonasikan kepada tempat penampungan anjing.

BACA JUGA:   PSBB Bukan Satu-Satunya Instrumen Pencegahan COVID-19

Ini hanyalah beberapa dari kisah pribadi, material, dan tujuan yang dibawa oleh 24 seniman yang berpartisipasi. 

Masing-masing menawarkan cara berbeda untuk mengalami warna biru sekaligus berkontribusi kepada komunitas.

Pengalaman pengunjung dimulai dengan sebuah ajakan sederhana: “Luangkan waktu sejenak, perlambat langkah…”

Pengunjung kemudian diajak menjawab pertanyaan, “Apa arti biru bagimu?” 

Pertanyaan ini menyertai mereka sepanjang pameran dan mendorong setiap orang untuk membangun hubungannya sendiri dengan karya-karya yang ditampilkan, alih-alih mencari satu tafsir yang telah ditentukan.

Malam pembukaan membawa pengalaman pameran melampaui seni visual melalui pertunjukan tari secara langsung, dilanjutkan dengan sambutan dan pembukaan resmi.

“Biru dipilih karena tidak memiliki satu makna tunggal. Biru dapat terasa damai, berjarak, intim, atau bahkan meresahkan, tergantung pada siapa yang memandangnya. Sebagai pendiri Blue Karma Secrets sekaligus salah satu seniman yang berpartisipasi, saya ingin pameran ini menciptakan ruang bagi berbagai perspektif tersebut untuk hadir berdampingan. Saya berharap pengunjung tidak datang untuk mencari satu jawaban, tetapi pulang setelah menemukan arti biru bagi diri mereka sendiri,” ujar Alexa Genoyer, Pendiri Blue Karma Secrets dan seniman yang berpartisipasi dalam Blue Peaceful Frequency.

BACA JUGA:   Wakapolres Bangli Pantau Kegiatan “Sipeng” di Banjar Adat Pekuwon

Blue Peaceful Frequency tidak berupaya mendefinisikan arti warna biru. Sebaliknya, pameran ini memberi ruang bagi 24 seniman untuk menawarkan 24 titik berangkat yang berbeda dan mengundang setiap pengunjung untuk menemukan tafsirnya sendiri.

Komentar