Site icon Fokus Bali

Vakum Puluhan Tahun, Sanggar Seni Kasturi Rekonstruksi Tari Baris Paku

Vakum Puluhan Tahun, Sanggar Seni Kasturi Rekonstruksi Tari Baris Paku

BANGLI, fokusbali.com – Sanggar Seni Kasturi, Banjar Sabang, Desa Adat Selulung, menggelar revitalisasi kearifan lokal melalui rekonstruksi Tari Baris Paku, Minggu (12/7/2026). 

Rekonstruksi dilakukan sebagai  upaya pelestarian terhadap tari sakral yang ada di wilayah Kintamani bagian barat ini.  

Ketua Sanggar Seni Kasturi, Jero Mangku Kadek Indrawan menyebutkan, kalang kampiyah dalam Tari Baris Paku juga disusun menggunakan daun paku paid dengan hitungan tertentu yang berbeda bagi setiap penari. 

Penari pertama menggunakan 16 daun, penari kedua 11 daun, penari ketiga 9 daun, dan penari keempat 7 daun.

“Hitungan daun paku tersebut memiliki makna religius, karena dalam kepercayaan masyarakat Desa Adat Selulung yang menganut agama Hindu, angka-angka tersebut dianggap sebagai simbol tempat para dewa,” ujarnya.  

Tari Baris Paku juga tidak dapat dipentaskan di sembarang tempat. Tari ini hanya boleh ditampilkan di pura-pura tertentu yang berada di wilayah Banjar Sabang, seperti Pura Taman Klansang, Pura Bukit Tegeh, Pura Jero Kajanan, dan Pura Jero Kelodan. 

Selain itu, tarian tersebut juga dapat ditampilkan di pura-pura yang berada di luar Banjar Sabang, seperti Pura Batur, Pura Balingkang, serta Pura Penulisan.

“Ketentuan ini menegaskan kedudukan Tari Baris Paku sebagai tarian sakral yang tidak sekadar karya seni, tetapi juga bagian dari sistem kepercayaan dan keseimbangan spiritual masyarakat Banjar Sabang,” ujarnya.

Sementara itu, Sedahan Adat Banjar Sabang, I Made Kopeng yang juga tokoh seniman Banjar Sabang menjelaskan, terkait asal-usul Tari Baris Paku, berdasarkan tradisi lisan yang diwariskan para tetua adat, tarian ini diperkirakan muncul sekitar tahun 1700 Masehi. 

Lahirnya tarian ini tidak terlepas dari situasi krisis yang dialami masyarakat kala itu, ketika gempa di wilayah Kintamani bagian barat, kemudian wabah penyakit, serta rusaknya hasil bumi akibat hama.  

Peristiwa-peristiwa tersebut diyakini sebagai tanda terganggunya keseimbangan alam dan hubungan spiritual masyarakat dengan kekuatan gaib. 

Dalam masa penuh kegelisahan itulah muncul pawisik atau bisikan gaib dari Bhatara Dukuh Sakti, dewa yang berstana di Bukit Tegeh dan dikenal pula dengan julukan Ki Dukuh Kamajaya. 

Pawisik tersebut disampaikan kepada seorang penglingsir bernama Ki Jalak Tenggeng di wilayah Jaringetet yang sekarang dikenal sebagai Banjar Sabang, berisi perintah untuk melakukan peruwatan melalui penciptaan empat tarian sakral yakni Baris Jongko, Baris Bunga, Baris Paku, dan Baris Kwaci.  

“Keempat tarian ini berfungsi sebagai sarana penyucian, sementara Tari Baris Paku khusus dipersembahkan kepada Bhatara Dalem Sang Hyang Telek perwujudan Bhatari Durgaila dan Bhatari Durgapati yang dipercaya mampu melebur penyakit, malapetaka, dan energi negatif yang mengancam masyarakat,” ujarnya. 

Dikatakan, keberlangsungan Tari Baris Paku ini tidak selalu mulus. Sejak tahun 1963 tarian ini tidak ditarikan lagi karena adanya letusan gunung agung yang mengakibatkan warga menjadi kelaparan berkepanjangan. 

Hal itu juga mempengaruhi pada pementasan tarian ini, sehingga tarian ini menjadi berhenti ditarikan selama puluhan tahun lamanya.  

Penghentian pementasan tari tersebut, ternyata justru diikuti oleh berbagai peristiwa yang dianggap sebagai pertanda hilangnya perlindungan spiritual bagi masyarakat Banjar Sabang, seperti konflik internal warga. 

Peristiwa-peristiwa konflik terus terjadi hingga 2017, yang memperkuat keyakinan bahwa hilangnya tarian ini berdampak pada terganggunya keseimbangan wilayah Banjar Sabang. 

Keprihatinan itulah yang mendorong tokoh masyarakat adat sabang untuk menghidupkan kembali Tari Baris Paku. 

Melalui diskusi yang melibatkan masyarakat dan para tetua adat, akhirnya disepakati bahwa tarian ini harus direvitalisasi sebagai tarian sakral yang menjaga harmoni antara manusia dan alam serta menetralisir kekuatan Bhuta Kala. 

“Tari ini kemudian direvitalisasi dan dapat ditarikan kembali oleh masyarakat dan bisa dilestarikan sampai sekarang,” ujarnya.  

Pementasan hasil rekonstruksi Tari Baris Paku yang digelar di Jaba Pura Dadia Tangkas Kori Agung Banjar Sabang, Desa Adat Selulung tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Bangli, I Wayan Diar, Anggota DPRD Provinsi Bali, Sang Nyoman Putra Erawan, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangli, I Wayan Dirga Yusa, serta Camat Kintamani, Ketut Erry Soena Putra. 

Hadir pula dari Balai Pelestarian Kebudayaan Bali, Kelian Adat Selulung, Perbekel Desa Belantih, serta seluruh masyarakat adat Banjar Sabang.  

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Bangli, I Wayan Diar menyampaikan rekonstruksi Tari Baris Paku ini merupakan langkah nyata dalam menghidupkan dan mengembangkan seni tradisi yang ada di wilayah Banjar Sabang, Desa Adat Selulung. 

“Jika diperkirakan tari ini sudah ada sejak tahun 1700 masehi maka usia tari ini sudah lebih dari 300 tahun. Sempat vakum, dan sekarang direkonstruksi kembali agar bisa dilestarikan,” ujarnya. 

Wayan Diar meminta agar keberadaan seni dan tari tradisional di wilayah Desa Adat Selulung agar terus dikembangkan. 

Pihaknya pun merasa turut berbangga mengingat di Desa Adat Selulung kini sudah ada sanggar seni yang menjadi wadah dalam pengembangan kegiatan berkesenian. 

Ia berharap, dalam waktu dekat Sanggar Seni Kasturi dapat terus berkembang dan mendapatkan kesempatan tampil di ajang Pesta Kesenian Bali sebagai duta Kabupaten Bangli. (kbg)

Exit mobile version