BANGLI, fokusbali.com – Menteri Pariwisata Republik Indonesia Widiyanti Putri Wardhana menghadiri Penyineban Karya Agung Panca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur, Desa Songan, Kintamani, Bangli, pada Selasa (6/10/2026).
Hadir pula dalam acara tersebut Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Kadispar Provinsi Bali I Wayan Sumarajaya, Kadispar Bangli I Wayan Dirga Yusa, Tetua Adat Guru Kubayan Muncuk, Pengrajeg Karya A. A. Gede Wiraguna, Koordinator Panitia Upacara Agung Manca Wali Krama I Nyoman Alit Adiana.
Kedatangan Menpar disambut oleh tarian Hanoman dan gamelan khas Baleganjur, selanjutnya melakukan penandatanganan Pengeling-eling.
Dalam sambutannya, Menpar Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan, Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi panitia dan seluruh masyarakat Desa Adat Songan sebagai pengempon Pura Hulundanu Batur.
“Upacara sepuluh tahunan ini adalah bukti ketulusan bhakti, kebersamaan dan gotong royong yang selalu dijaga secara turun temurun dalam menjaga kelestarian Danau Batur,” ujarnya.
Bagi Kementerian Pariwisata, seperti ditulis dalam naskah Pangeling Eling Pura Hulundanu Batur, makna yang terkandung dalam konsep Pradana Tirta Amerta beserta juga Purusa dalam pelaksanaan upacara Tawur Agung Panca Wali Krama menjadi nilai-nilai dasar yang menjaga budaya warisan geologi serta keanekaragaman hayati Danau dan Gunung Batur.
Geopark Batur dilindungi dalam kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan UNESCO Global Geopark sejak tahun 2012.
Kemenpar hadir bersama masyarakat Desa Songan dalam menjaga kesucian Gunung dan Danau Batur serta mengembangkan pariwisata berbasis budaya yang lestari, bermanfaat bagi masyarakat.
“Semoga upacara ini membawa kerahayuan, kesejahteraan, dan keharmonisan bagi Bali dan seluruh Indonesia,” ucapnya.
“Senada dengan tema Momentum Penyucian Alam, Pelestarian Gunung dan Danau Batur Serta Penguatan Kehidupan dan Kesejahteraan Masyarakat Bali,” sebutnya.
Disinggung harapan dari upacara ini, Putri Wardana mengatakan Pemerintah pusat sangat mengapresiasi dilestarikannya budaya dengan diselenggarakannya upacara sepuluh tahun sekali dilaksanakan selama 25 hari.
“Ini sangat penting guna melestarikan budaya dan juga alam. Sementara dibidang pariwisata budaya sangat sejalan dengan Pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, berharap upacara ini diselenggarakan secara berkelanjutan,” harapnya. (kbg)
