Site icon Fokus Bali

FOTO Bali Festival 2026, Perkuat Posisi Bali sebagai Platform Baru Fotografi di Asia Tenggara

FOTO Bali Festival 2026

TABANAN, fokusbali.com – Nuanu Creative City kembali menghadirkan FOTO Bali Festival 2026 yang resmi dibuka pada Rabu (3/6/2026), dengan tema Afterimage. 

Berlangsung dari 3 Juni hingga 12 Juli 2026, edisi ke-2 festival ini menghadirkan beragam program selama 40 hari yang mempertemukan seniman, pendidik, mahasiswa, institusi budaya, kolektif, dan masyarakat luas dalam ruang yang didedikasikan bagi fotografi, budaya visual, dan pertukaran gagasan.

Melalui open call internasional yang menerima hampir 700 pendaftaran dari lebih dari 80 negara, edisi 2026 menampilkan karya dari 36 seniman terpilih yang berasal dari 24 negara. 

Dikurasi oleh Kurniadi Widodo dan Putu Sridiniari, karya-karya yang ditampilkan mengeksplorasi fotografi sebagai memori, bukti, jejak, arsip, dan spekulasi—mengajak publik mempertanyakan apa yang tersisa setelah sebuah gambar diciptakan dan bagaimana fotografi terus membentuk cara kita memahami diri sendiri, satu sama lain, serta dunia di sekitar kita.

“Fotografi menawarkan cara untuk terhubung dengan berbagai tempat, sejarah, dan perspektif yang berbeda,” ujar Kurniadi Widodo dan Putu Sridiniari, Tim Kurator FOTO Bali Festival 2026. “AFTERIMAGE mengajak kita memikirkan apa yang masih tertinggal ketika perhatian telah beralih ke hal lain. Apa yang terjadi setelah sebuah foto diambil: bagaimana ia diedit, disusun, dikontekstualisasikan, dipublikasikan, diarsipkan, dibagikan, atau diingat? Banyak karya dalam edisi ini berbicara tentang keberlanjutan jejak—bagaimana sejarah terus membentuk masa kini, bagaimana lanskap menyimpan tanda-tanda perubahan, dan bagaimana fotografi mengakumulasi makna seiring waktu. Kami melihat fotografi bukan sekadar medium dokumentasi, tetapi juga sebagai cara untuk memahami kompleksitas, ketidakpastian, dan berbagai negosiasi yang membentuk realitas sosial kita. Edisi ini mempertemukan seniman dari Indonesia dan berbagai belahan dunia yang tumbuh dalam konteks yang berbeda-beda, sekaligus merefleksikan ketertarikan kami pada bagaimana gambar bergerak melintasi geografi, membawa jejak memori dan relasi kuasa, serta membuka ruang dialog yang bermakna lintas wilayah.”

Meski menghadirkan seniman dan audiens dari berbagai negara, festival ini tetap berakar kuat di Bali. 

Keterhubungan dengan konteks lokal tercermin melalui kolaborasi bersama MTN Seni Budaya, Program Studi Fotografi ISI Bali, dan Bali Motion Club, sebuah kolektif visual asal Bali. Melalui kemitraan ini, mahasiswa, pendidik, seniman, dan komunitas kreatif lokal terlibat tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai bagian aktif dari festival. 

Melalui pameran, diskusi, lokakarya, pemutaran film, program proyeksi, dan berbagai pertemuan publik, FOTO Bali Festival menghadirkan fotografi sebagai medium yang dapat dinikmati, didiskusikan, dibagikan, dan dikembangkan bersama.

“FOTO Bali Festival menghadirkan para fotografer dunia ke salah satu tempat yang paling banyak dipotret di dunia. Memasuki tahun keduanya, festival ini semakin berkembang menjadi titik temu yang nyata antara Bali dan komunitas pembuat gambar (image-making) global,” ujar Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City. “Bagi kami, menjadikan Nuanu sebagai tempat bertemunya ide dan talenta adalah tujuan utama, dan kami merasa terhormat dapat menjadi tuan rumah bagi pameran yang luar biasa ini.”

Edisi 2026 berlangsung di berbagai ruang di Nuanu Creative City, termasuk Labyrinth Art Gallery, Labyrinth Dome, Japanese Garden, dan Block 42. 

Beragam lokasi ini menawarkan cara yang berbeda untuk mengalami fotografi, mulai dari pameran galeri dan photobook hingga karya multimedia, proyeksi publik, diskusi, lokakarya, dan berbagai format pembelajaran.

“Sejak awal, FOTO Bali Festival tidak pernah dimaksudkan hanya sebagai sebuah pameran,” ujar Kelsang Dolma, Festival Director FOTO Bali Festival. “Agar fotografi dapat berkembang secara berkelanjutan di kawasan ini, para praktisi membutuhkan lebih dari sekadar ruang pamer. Mereka membutuhkan percakapan mengenai pendanaan, penerbitan, mentorship, arsip, audiens, dan sirkulasi internasional. Program tahun ini merupakan upaya kami untuk menghadirkan sebagian dari ekosistem tersebut, bukan hanya untuk meningkatkan visibilitas, tetapi juga untuk membangun keberlanjutan.”

Pendidikan dan penguatan ekosistem menjadi salah satu fokus utama FOTO Bali Festival 2026. 

Festival ini bekerja sama dengan institusi budaya, platform fotografi, organisasi pemberi hibah, kolektif seniman, pendidik, dan praktisi visual untuk mendukung berbagai tahapan dalam praktik fotografi.

Program publik yang dihadirkan membuka akses terhadap pengetahuan yang sering kali sulit dijangkau, mulai dari strategi pendanaan, riset dan storytelling, pengarsipan budaya, proses analog, mentorship, penerbitan, hingga peluang sirkulasi internasional.

Selama 40 hari penyelenggaraan, FOTO Bali Festival 2026 mengundang publik untuk mengalami fotografi sebagai medium memori, refleksi, dan pertukaran gagasan, sekaligus memperkuat peran Bali sebagai ruang pertemuan antara praktik artistik, pendidikan, dan komunitas.

Exit mobile version