BULELENG, fokusbali.com – Yayasan Jaya Pranidhana bersama Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Buleleng menggelar kegiatan pemberdayaan disabilitas netra bertajuk “Sentuhan Cahaya” di Monumen Tri Yudha Sakti, Buleleng, Senin (16/3/2026).
Kegiatan spiritual ini dipimpin Sawitri, seorang praktisi wellness dan sekretaris Yayasan Jaya Pranidhana bergerak menebar alunan frekuensi penyembuhan di situ. Sawitri memberikan kontribusi spesial melalui sesi Sound Healing yang mendalam.
Ketika alat musik dimainkan, suaranya terasa indah dan kuat. Getarannya, seakan mempengaruhi frekuensi tubuh, memperlambat gelombang otak dan menciptakan kondisi relaksasi mendalam. Suara itu selaraskan tubuh, pikiran dan jiwa.
“Melalui getaran suara, kita berkomunikasi melampaui kata-kata. Bagi rekan-rekan Pertuni, suara adalah cahaya visual mereka,” kata Sawitri dalam aksi sosial master Ketut Arsana bagi Komunitas Pertuni Buleleng itu.
Sesi terapi suara itu, memang dihadirkan untuk mengiringi bimbingan spiritual dari Master Ketut Arsana, Master Healer dunia sekaligus pendiri Ubud Bodywork Centre dan OM HAM Retreat and Resort.
Kolaborasi bukan sekedar tempelan, tetapi menciptakan sinergi unik antara aktivasi energi Prana dari Master Arsana dengan getaran suara (vibrational healing) yang dibawakan oleh Sawitri.
Para penyandang disabilitas netra yang memiliki kepekaan pendengaran luar biasa, sehingga, sesi Sound Healing ini menjadi jembatan emosional yang kuat.
Alunan instrumen yang dibawakan Sawitri dirancang untuk menenangkan sistem saraf, membantu peserta memasuki kondisi meditatif yang dalam sebelum menerima transfer energi dari Master Arsana.
“Saya ingin frekuensi ini membantu mereka merasa lebih tenang, berdaya, dan siap menjadi saluran kesembuhan bagi orang lain,” ungkap wanita ramah yang aktif dalam kegiatan organisasi pariwisata ini.
Integrasi antara teknik pijat, manajemen energi, dan terapi suara diharapkan mampu meningkatkan standar profesionalisme para terapis Pertuni, sekaligus menjaga kesehatan mental mereka sebagai pejuang kemandirian.
Memang, kehadiran Sawitri lewat kemampuan memainkan alunan frekuensi penyembuhan dalam acara tersebut seakan mempertegas misi Yayasan Jaya Pranidhana dalam memberikan pendekatan holistik dalam setiap aksi sosialnya.
Selain sesi sound healing, aksi sosial Master Ketut Arsana bagi Komunitas Pertuni Buleleng itu juga diidi dengan aktivasi prana, Master Ketut Arsana membimbing 50 anggota Pertuni untuk mengolah energi internal melalui telapak tangan.
Ada meditasi kolektif, yakni sesi hening bersama relawan Ashram Lembah Bhayam untuk penguatan spiritual. Lalu, dharma tula yang diisi dengan diskusi filosofis mengenai pengabdian dan kepercayaan diri bagi terapis disabilitas.
Acara diakhiri dengan pemberian dukungan tali kasih dan sembako, sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap komunitas disabilitas di Buleleng agar terus bertumbuh dalam harmoni dan cahaya.
Sawitri bersama Yayasan Jaya Pranidhana, organisasi nirlaba yang berfokus pada pemberdayaan sosial, spiritual, dan kemanusiaan berkomitmen menciptakan dampak positif bagi komunitas rentan dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal dalam penyembuhan holistik.
Kali ini, yayasan itu membekali Penyandang Disabilitas Netra Buleleng Teknik pijat prana untuk kesembuhan holistik.
Kegiatan ini melibatkan para master untuk menularkan teknik pijat konvensional dengan mengajarkan seni penyembuhan berbasis energi atau Prana.
Sawitri bersama Ketut Arsana, Master Healer kelas dunia sekaligus pendiri Ubud Bodywork Centre, Ubud Aura Wellness Sanctuary, OM HAM Retreat and Resort serta Master Kundalini Tantra Yoga dan International Ashram Munivara di Ubud melestarikan nilai-nilai kearifan lokal.
Bersama ayahnya, Master Ketut Arsana, ia membimbing hingga 50 anggota Pertuni Buleleng untuk mengolah energi internal agar setiap sentuhan yang diberikan tidak hanya merelaksasi otot, tetapi juga memberikan penyembuhan holistik yang mendalam.
Pelatihan ini untuk memberikan penguatan spiritual bagi para terapis dalam menjaga kesehatan mental mereka sendiri.
“Keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi seseorang untuk menjadi saluran kesembuhan bagi sesama,” ucap Sawitri.
Selain workshop teknik, acara tersebut dimeriahkan dengan dharma tula, yakni ceramah mendalam mengenai filosofi Prana dan penyembuhan diri, aktivasi energi yaitu bimbingan langsung penyaluran energi melalui telapak tangan.
Termasuk kegiatan meditasi bersama untuk pengisian energi positif untuk menjaga ketulusan hati para terapis.
Seluruh relawan merupakan murid dari Ashram Lembah Bhayam bersama-sama menyalurkan energi positif kepada para peserta sebagai penguatan spiritual dan dukungan moral.






